Resident Evil 9 Requiem datang dengan beban ekspektasi yang besar, dan justru di situlah menariknya pembahasan soal kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 Requiem. Kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 Requiem terasa sangat jelas sejak jam-jam pertama main, karena Capcom seperti sengaja memamerkan semua hal yang bikin seri ini dicintai sekaligus semua hal yang masih bisa diperdebatkan. Jadi, saat kita ngomongin kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 Requiem, pertanyaan yang muncul adalah “beneran game bagus?”, mari kita coba jawab bersama!
Kelebihan dan Kekurangan Resident Evil 9 Requiem
Kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 Requiem ada pada keberaniannya memainkan dua wajah Resident Evil sekaligus: survival horror yang sempit, tegang, dan bikin napas pendek; lalu action horror yang agresif, eksplosif, dan penuh gaya.
Di satu sisi, formula ini terasa seperti bentuk paling matang dari identitas Resident Evil modern. Di sisi lain, pembagian itu kadang membuat alurnya terasa seperti dua pengalaman yang berjalan berdampingan, bukan satu campuran yang benar-benar menyatu mulus. Nah, dari sinilah pembahasan soal kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 Requiem jadi menarik, karena game ini sangat bagus, tetapi juga cukup banyak diperdebatkan.
Perpaduan horror dan action-nya jadi kekuatan utama

Oke, kita bahas kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 lewat hororrnya dulu. Salah satu kelebihan terbesar Resident Evil 9 Requiem adalah keberhasilannya menyeimbangkan rasa takut dan keren. Saat kamu memainkan bagian Grace, nuansanya sempit, gugup, rapuh, dan penuh kehati-hatian. Saat kamu pindah ke Leon, game langsung berubah jadi brutal, cepat, dan penuh percaya diri. Pendekatan ini sebenarnya bisa terasa tabrakan, tapi Capcom berhasil menjaga keduanya tetap relevan terhadap cerita utama.
Banyak game horror-action gagal karena salah satu sisi terlalu dominan. Kalau action terlalu kuat, horornya hilang. Kalau horror terlalu lama tanpa variasi, pemain capek. Requiem paham soal ritme itu. Bagian Grace bikin mental kamu tegang, lalu bagian Leon jadi pelepas tekanan yang memuaskan. Hasilnya, kamu jarang merasa bosan. Setiap pergantian karakter terasa seperti reset emosi, dan itu efektif banget menjaga intensitas. Jadi, untuk kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 di bagian horror, jelas ini sebuah keunggulan.
Grace dan Leon memberi dua pengalaman main yang sama-sama kuat
Dalam kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9, Capcom tidak asal bikin dua protagonis hanya hanya untuk menambah variasi saja. Grace dan Leon benar-benar mewakili dua filosofi permainan yang berbeda. Grace terasa seperti karakter yang harus bertahan hidup dengan keterbatasan. Dia bukan petarung utama, jadi setiap peluru, setiap langkah, setiap keputusan untuk lari atau melawan terasa punya konsekuensi. Ini bikin bagian Grace lebih personal dan mencekam.
Sebaliknya, Leon adalah pusat dari semua perasaan menegangkan di game ini. Dia tetap membawa aura veteran yang sudah kenyang pengalaman, dan itu kelihatan dari cara dia bergerak, cara dia bertarung, sampai bagaimana game memberi ruang buat dia tampil keren. Leon bukan sekadar fan service. Dia memang dirancang untuk jadi pay-off dari semua tekanan yang kamu rasakan sebelumnya.
Menurut saya, keputusan menjadikan dua karakter ini sebagai poros utama adalah langkah cerdas. Kamu bukan cuma mendapatkan variasi gameplay, tapi juga variasi perspektif emosional. Grace membuat kamu merasa rentan. Leon membuat kamu merasa dominan. Kombinasi ini bikin Resident Evil 9 Requiem punya identitas yang lebih kaya dibanding game yang hanya memilih satu jalur saja.
Meski begitu, ada sedikit catatan. Di paruh akhir, porsi Leon terasa lebih dominan. Buat sebagian pemain, ini menyenangkan. Tapi buat yang suka sensasi menegangkan ala survival horror dari Grace, perubahan itu mungkin terasa agak timpang. Jadi, kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 Requiem, struktur protagonis ganda ini bisa jadi nilai plus besar sekaligus menyisakan satu kritik kecil soal distribusi porsi.
Desain zombie dan manajemen resource terasa sangat hidup

Kalau ada satu aspek kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 yang terasa segar, itu ada pada desain zombienya. Musuh di Requiem bukan sekadar mayat berjalan yang maju lurus dan jadi karung peluru. Mereka punya gestur, sisa memori, kebiasaan, bahkan pola perilaku yang bikin tiap pertemuan terasa lebih hidup. Ada zombie yang masih seperti mengulang aktivitas lamanya, ada yang bikin situasi makin kacau dengan cara yang tidak terduga, dan ada yang memaksa kamu berpikir dua kali sebelum menembak.
Sistem resource management juga kuat. Peluru, item pemulih, bahan crafting, dan slot inventori terasa benar-benar bernilai. Tidak ada sensasi “ah santai, nanti juga ketemu banyak lagi.” JIni membuat eksplorasi punya tensi, bukan cuma formalitas. Menurut saya, inilah salah satu alasan kuat kenapa kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 Requiem lebih condong ke sisi positif. Saat survival system-nya jalan, game ini benar-benar nagih.
Combat Leon tajam, responsif, dan memuaskan
Bagian Leon adalah bukti bahwa Capcom makin paham cara bikin combat third-person yang berat tapi tetap responsif dan apakah ini masuk ke dalam kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9? Jelas ini keunggulan. Senjata terasa punya karakter masing-masing. Pistol terasa fleksibel, shotgun punya daya hentak, rifle lebih presisi, dan senjata melee atau parry mechanic memberi ruang buat pemain yang suka bermain agresif tapi teknis. Yang paling saya suka, kematian dalam combat jarang terasa curang. Kalau gagal, biasanya karena salah baca situasi, salah posisi, atau terlalu rakus.
Sebagai gamer yang cukup sensitif terhadap combat feel, saya bisa bilang Requiem berhasil menjaga rasa “berat” tanpa bikin karakter terasa lamban secara menyebalkan. Encounter design juga keren. Ada pertarungan yang menuntut aim, ada yang menuntut mobilitas, ada yang memanfaatkan lingkungan, dan ada yang memang sengaja dibuat bombastis biar kamu puas. Ini bikin bagian action tidak terasa monoton. Jadi walau Leon lebih minim rasa takut dibanding Grace, dia tetap punya ketegangan dari sisi tekanan tempur.
Kalau kamu suka Resident Evil yang memberi ruang buat skill expression, Leon di Requiem adalah kabar baik. Jadi kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 Requiem dari sisi action ini jelas salah satu penopang terbesar kenapa game ini terasa “worth it.”
Presentasi visual, audio, dan set piece sangat niat

Oke, sekarang masuk ke kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 soal atmosfer. Bisa dibilang Requiem terasa seperti upgrade yang lebih percaya diri. Lighting, detail lingkungan, suara langkah, desahan musuh, dentuman senjata, dan desain ruang sempit yang menekan itu semuanya bekerja sangat baik. Bagian rumah sakit, lorong gelap, ruang bawah tanah, area rusak, dan lokasi-lokasi ikonik dibangun dengan rasa yang matang.
Saya pribadi menganggap audio design game ini sangat berperan dalam membentuk kualitas horror. Banyak momen tidak akan seefektif itu kalau suaranya biasa saja. Requiem tahu kapan harus membuat sunyi terasa mengancam, dan kapan harus membanjiri telinga kamu dengan kekacauan. Ini salah satu elemen yang sering diremehkan, padahal justru menentukan apakah sebuah game horror benar-benar “kena” atau tidak.
Set piece-nya juga berani. Ada momen yang realistis tegang, ada juga yang sengaja over-the-top khas Resident Evil. Yang menarik, game ini tidak malu menjadi absurd pada saat yang tepat. Dan jujur, itulah salah satu jiwa Resident Evil yang justru bikin seri ini punya rasa khas. Selama eksekusinya mantap, saya tidak masalah kalau game sesekali terasa lebay. Requiem tahu batas kapan harus serius dan kapan harus lepas kendali dengan cara yang menyenangkan. Inilah kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 yang harus kamu pahami.
Puzzle-nya tidak jelek, tapi terasa terlalu disederhanakan
Sekarang kita masuk ke sisi minus yang paling sering terasa: puzzle. Buat saya, ini salah satu kekurangan yang paling sah untuk dikritik. Puzzle dalam Resident Evil 9 Requiem memang tetap ada, dan secara fungsi masih membantu ritme agar permainan tidak cuma soal lari, nembak, dan panik. Tapi kalau dibandingkan potensi desain dunianya, banyak puzzle di sini terasa terlalu ringan.
Masalahnya bukan karena semua puzzle harus bikin pemain pusing. Masalahnya, banyak tantangan yang seperti hanya jadi jembatan antar-area, bukan benar-benar teka-teki yang memberi rasa puas setelah dipecahkan. Kadang game terlalu cepat memberi petunjuk atau terlalu jelas menunjukkan solusi. Hasilnya, momen “aha!” yang biasanya jadi kenikmatan klasik Resident Evil justru agak berkurang.
Pace paruh akhir lebih condong ke action, dan itu bisa memecah selera

Ini bukan kelemahan fatal, tapi jelas terasa. Di jam-jam awal sampai pertengahan, game begitu kuat membangun teror, rasa rapuh, dan survival pressure. Tapi mendekati akhir, nuansanya lebih banyak condong ke aksi yang lebih frontal. Sekali lagi, bukan berarti jelek. Bahkan banyak adegan action-nya sangat seru. Masalahnya hanya pada keseimbangan rasa.
Kalau kamu berharap game ini akan mempertahankan horror pekat sampai credits, mungkin kamu akan merasa bagian akhir terlalu “lega” dan terlalu percaya diri. Sebaliknya, kalau kamu suka Resident Evil yang makin lama makin meledak, kamu mungkin justru puas. Saya sendiri melihat ini sebagai kekurangan pacing, bukan kekurangan kualitas. Artinya, apa yang disajikan tetap seru, cuma distribusinya agak berat sebelah.
Ada beberapa momen trial and error yang bisa bikin kesal
Ada beberapa segmen di mana kamu bisa mati beberapa kali bukan karena tantangannya sangat sulit, melainkan karena game kurang jelas memberi tahu apa yang sebenarnya diminta. Buat gamer yang sabar, ini mungkin cuma gangguan kecil. Tapi buat pemain yang sangat detail dengan desain yang jelas dan konsisten, momen seperti ini bisa sedikit merusak flow.
Saya pribadi masih bisa memaafkan karena jumlahnya tidak dominan. Tapi kalau kita bicara kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 Requiem secara lengkap, aspek ini harus masuk. Game bagus bukan game yang sempurna. Justru lewat detail seperti inilah kita bisa melihat batas desainnya.
Selain itu, konten tambahan setelah tamat juga terasa belum seistimewa potensi gameplay-nya. Dengan combat Leon yang seasyik itu, rasanya sayang kalau side mode atau replay hooks tidak dimaksimalkan lebih jauh. Replay value tetap ada, tapi kesannya masih bisa didorong lebih tinggi.
Pada akhirnya, pembahasan soal kelebihan dan kekurangan Resident Evil 9 Requiem membawa kita ke satu kesimpulan yang cukup jelas: ini adalah game yang sangat sadar diri. Capcom tidak sedang mencoba jadi sesuatu yang asing. Mereka sedang menyusun versi paling rapi dari identitas Resident Evil modern, lalu menambahkan cukup banyak momen berkesan supaya perjalanan 10 jamnya terasa padat dan layak dikenang.
Jadi kalau pertanyaan kamu adalah “beneran game bagus?” jawabannya: iya, beneran bagus, hanya saja kamu akan lebih menikmati game ini kalau datang dengan ekspektasi bahwa ini adalah Resident Evil yang merayakan masa lalu sambil tetap berusaha relevan di masa sekarang.













